Rabu, 03 Juni 2015



Apresiasi SastraTeks Lagu Daerah
                        Rejang Lebong       

          Nasib                      Nasib
Uku alew mai sadei Perbo                  saya pergi ke dusun perbo                  
temau punguk nak pengei dalen         ketemu burung pungguk di pinggir jalan
Lang ke malang nasib ku iyo              sungguh malang nasibku ini
awei punguk indeu ngen bulen           bagaikan pungguk merindukan bulan.

Uku teus mai sadei saweak                 saya terus ke dusun sawah
 temau saweak nak bioa musei            ketemu sawah di tepi sungai Musi
Men ku namen tun temegea                jika kutahu orang melarang
 nemak ku anduk gen mlap bioa matei            kuambil handuk untuk menghapus air mata

Uku teus mai tabarena’                       Saya terus menuju ke Tabarenah
singga’ uku nak sipang epat                singgah aku di simpang empat,
Men ku namen eko lak nikea’             jika kutahu engkau akan menikah
 kunyeu ba uku idup melarat               biarlah aku hidup menderita.

Uku belek mai bioa ambei                   Saya pulang ke Air Rambai
 mitas uku kak sadei cu’up                  melintas saya di dusun Curup
Men ku namen ko bi jijei                     jika kutahu engkau sudah jadi
 baik ba uku dawi ba idup                   lebih baik aku tak usah hidup

(Dikutip dari lagunya Romlah dan Ridwan CH Rejang Lebong).


Judul lagu “Nasib” yang dinyanyikan oleh penyanyi Ridwan CH dan Romlah tersebut di atas dapat diartikan suatu ketentuan yang harus diterima oleh seseorang baik atau pun  buruk. Nasib juga dapat dipahami sebagai suratan tangan yang harus dijalani, kalau tercatat akan selamat walau seribu orang bersekongkol mau mencelakakan, ia tetap akan selamat tidak kurang suatu apa sebaliknya kalau tercatat akan celaka walau seribu orang bersama-sama ingin menyelamatkannya maka ia akan tetap celaka. Dalam perspektif agama Islam nasib itu sama dengan takdir, yaitu ada (1) takdir musayyar sesuatu yang telah ditentukan dan dibentuk oleh Maha Pencipta. Misalnya, manusia tidak tahu bagaimana alat pencernaannya bekerja, pernapasannya berfungsi, dapat merasakan semua itu tanpa ikhtiar juga kehadirannya di dunia ini atau kematiannya. Semua sifat manusia yang sama dengan sifat benda, tanam-tanaman dan hewan adalah musayyar. (2) takdir mukhayyar yaitu takdir yang manusia diberi kebebasan memilih/menentukan, menerima atau menolaknya, seperti mau sholat atau tidak, mau bekerja atau jadi pengangguran, termasuk jodoh.
Sekarang mari kita pahami nasib yang dimaksud dari judul lagu di atas, pada bait pertama nasib si fulan dijelaskan bahwa nasibnya malang. Kemalangan si fulan digambarkan seperti burung pungguk merindukan bulan, artinya malang dalam bercinta yaitu mengharapkan sesuatu yang tak mungkin didapatkannya atau bisa juga cinta bertepuk sebelah tangan. Mana yang lebih tepat, cinta ditolak atau bertepuk sebelah tangan ? jawabannya terdapat pada bait kedua, disana disebutkan “men kunamen tun temegea” (kalau kutahu orang mencegah/melarang) jelas maksudnya cinta ditolak bukan karena cinta bertepuk sebelah tangan. Cintanya ditolak karena ada orang melarang/mencegah bukan karena penolakan dari gadis idamannya. Siapa yang melarang ? bisa orang tua laki-laki atau perempuan, bisa keluarga adik beradik, bisa juga keluarga dekat seperti pak de/bude, paman/bibi, kakek/nenek dst. Orang mencegah/melarang bisa ada beberapa faktor umum keseharian yang terjadi di masyarakat, yaitu :
1.      Pihak laki-laki orang tidak mampu sementara pihak perempuan keluarga berada.
2.      Pihak laki-laki rakyat biasa (petani) sedang pihak perempuan keturunan bangsawan (pejabat).
3.      Pihak laki-laki wajahnya tidak tampan sedang perempuannya cantik.
4.      Atau ada faktor perselisihan yang belum selesai antara kedua orang tua dsb.
Dalam konteks lebih luas “tun temegea” bisa berarti keduluan orang lain, ditunggu-tunggu tidak segera melamar maka begitu ada yang melamar segera diterima. Artinya gadis idaman dilamar orang lain, dan gadis idaman sudah menjadi gadis “bertanda”. Gadis bertanda dalam kebudayaan Rejang tidak boleh diganggu siapapun, kalau ada yang coba-coba maka nyawa taruhannya. Contoh kasus yang dapat dijadikan pelajaran yaitu dongeng “Sinatung Natak”, ia dibunuh karena mengganggu gadis bertanda. Dalam perpektif Islam memang pantang menawar barang yang sedang ditawar orang lain, begitu juga dilarang melamar wanita yang sudah dilamar orang lain, apalagi sampai membawanya lari.
Nasib malang semakin dirasakan sangat malang tatkala mendengar gadis pujaannya mau menikah. Baru tahap lamaran saja, mendengarnya sudah menyesakkan dada apalagi sebentar lagi mau melaksanakan “bimbang kejai” maka si fulan mengungkapkan persaannya pada bait ketiga sebagai berikut : “men kunamen ko lak nikea’, kunyau ba uku idup melarat” kalau kutahu engkau segera menikah maka biarlah aku hidup sengsara, dalam konteks keseharian orang Rejang “hidup sengsara” maksudnya seperti pepatah bagai kerakap hidup di batu hidup segan mati tak mau. Antara hidup dan mati, bekerja malas, makan minum apalagi semua terasa hambar, dunia serasa gelap gulita, mata enggan terpejam hanya angan-angan mengukir wajahmu dalam batok kepala, itu yang membawanya menginjak daratan. Puisi berikut ini menggambarkan kondisi si fulan yang sedang gundah gulana.
Rindu
Kala malam pekat menyelimuti rasa
Hening, kabut menutup semua pintu
Angin menggigil membawa wajahmu pergi
Kudatangkan gambarmu seutuhnya, tapi tak bisa
Waktu tlah merebut kita
Disini kusenandungkan rindu
Menjemput bayang-bayangmu di langit kamar
Oh..rindu.......................................................................!!!
Rinduku menggambar senyum manismu  semakin nyata
Memeluk tidur malamku semakin panjang
 Mata enggan terpejam
Kubuka pintu, tak ada kamu
Air mata menetes .....setetes rindu.

            Kemalangan si fulan ditegaskan pada bait terakhir yang mengatakan, “men kunamen ko bi jijei” (kalau kutahu kau sudah jadi) maksudnya pernikahan betul-betul sudah terlaksana, sehingga tak ada harapan lagi. Gadis pujaan sekarang sudah sah menjadi milik orang lain tak bisa diganggu gugat lagi kecuali nasib buruk menimpa seperti bercerai, meninggal sehingga ia masih punya kesempatan menikahi gadis pujaannya walau statusnya janda. Kutunggu jandamu hanya itu harapan kecilnya.
 Jadi nasib malang memang sudah menjadi bagianku (si fulan), takdir sudah menentukan bahwa  saling cinta belum tentu menuju jenjang pernikahan. Cinta boleh dipunyai oleh si fulan tapi raga gadis pujaan sekarang sah milik orang lain. Ibarat pepatah penghibur hati “cinta tidak harus memiliki”, akan tetapi hati si fulan tidak bisa menerima kenyataan pahit ini. Hal ini terlihat pada kalimat terakhir sebagai berikut : “baik ba uku dawi ba idup” (lebih baik aku tidak usah hidup), maksudnya jelas daripada hidup makan hati berulam jantung lebih baik mati berputih tulang atau dalam bahasa tragisnya “bunuh diri”. Mengapa si fulan merintih sampai mau bunuh diri segala, ini disebabkan nasib bagiannya yang sudah jatuh ditimpa tangga pula.
 Kesimpulan dari kisah si fulan, nasib yang dimaksud adalah takdir buruk karena Tuhan menentukan lain dari yang diharapkannya. Padahal kalau dikaji apa yang kita inginkan belum tentu itu yang diberi oleh Tuhan pada kita. Bisa jadi apa yang diberi itu ternyata itu yang terbaik buat diri kita, kita mencintai si A tapi ternyata si A mencintai si B, si B mencintai kita tapi kita tidak, seperti lingkaran yang tak ada habisnya. Oleh karena itu, kita harus bisa menerima apa yang diberikan oleh Tuhan apa adanya (optimisme) sebaliknya kalau kita mengeluh dan menyalahkan nasib sebagai biang keladinya maka sifat pesimisme ini harus dihindari. Sikap pesimis akan membelenggu langkah panjang kita menuju harapan di masa datang. Dunia tak selebar daun kelor, masih banyak gadis-gadis terbaik yang disiapkan Tuhan menunggu di ujung waktu. Jangan kita habiskan waktu dengan hal-hal yang tak berguna, hanya karena seorang wanita.Wanita yang dijodohkan oleh Tuhan untuk kita seburuk apa pun itu yang terbaik buat hidup kita. Sebaliknya secantik bidadari gadis yang meluluhkan hati kita, kalau bukan jodoh, itu lebih baik buat kita.
Lagu di atas mengajarkan pada kita jangan seperti si fulan yang tidak bisa menerima takdir ketentuan dari Tuhan lalu jatuh pada menganiaya diri sendiri. Merintih, menyayat hati boleh-boleh dan sah-sah saja karena sakitnya tu disini akan tetapi jangan lama-lama berkubang disana. Segera bangkit dan berjalanlah seperti biasa saat anda merasakan betapa bahagianya hidup didunia penuh lika-liku ini. Liku-liku laki-laki selalu berkelit berkelindan dengan perempuan kecuali abnormal.

Selasa, 02 Juni 2015



 Analisis wacana
Teks sastra lisan Rejang
“Terjadinya Pohon Enau”

A.Pendahuluan.
Analisis Wacana menurut Stubbs (dalam Darma, 2009:15) mengatakan bahwa analisis wacana merupakan suatu kajian yang meneliti dan menganalisis bahasa yang digunakan secara alamiah, baik lisan maupun tulis, misalnya pemaknaan bahasa dalam komunikasi sehari-hari. Sementara itu, Darma (2009:47) dalam wacana perlu diperhatikan tiga hal, yaitu (1) tahapan struktur bahasa yang menghubungkannya dengan partisipan dalam komunikasi, (2) tindakan yang dimunculkan melalui teks yang dihasilkannya, (3) konteks dalam wacana yang dibangun. Sedangkan Wijana dan Muhammad Rohmadi (2011:13) mendefinisikan analisis wacana adalah  analisis kebahasaan yang terikat dengan konteks. Dari pendapat para ahli bahasa tersebut diatas dapat dikatakan bahwa analisis wacana adalah usaha menelaah, meneliti, mengkaji, mendepkripsikan produk bahasa yang berguna sesuai konteks baik lisan maupun tulisan.
Ada dua aspek dalam analisis wacana, Darma (2009:73-79) yaitu, (1) aspek mikrostruktural, wacana dikaji dari sisi linguis seperti jenis, struktur dan hubungan bagian-bagiannya. Kajiannya meliputi yaitu, (a) kosa kata (kohesi leksikal) seperti repetisi, sinomimi, antonimi, hiponimi, kolokasi, (b) gramatika seperti referensi, substitusi, elipsis, konjungsi. dan (c) struktur teks yaitu elemen-elemen secara berurutan yang membangun teks. (2) aspek makrostruktural, analisis wacana yang menginterpretasi teks dengan memperhatikan konteks situasional (budaya) dan konteks antar tekstual (prinsip analogi, background dll).
Berikut ini legenda terciptanya pohon enau, kutipan lisan.(Sarwono, 2001). Teks lisan ini akan dianalisis sesuai teori analisis wacana seperti yang telah dikemukakan di atas.




Ade anok lumang duai basoak. Si alau mai imbo. “Kalew uku matei”, padeakne, “kesoa uku nak di”, nadeakne ngen kakokne. “Lah lajau uku tingga su’ang amen ko matei. Do’o ite duai basoak, ipe lumang ko matei kulo. Coa uku lak temulung ko”. “Cigay ade dalen luyen igai”, kesoa uku nak di, jano ade tubuh idup, kalew si bebuak manyang awei yo endahne yo bueak ilmaw. Air kemcur manyang kadeaknu yo namo yo ilmawne yo perbuatenne mak bioane. “Sapei ku kak nio kumu keluwea, kesoa kak nio. Slaweine matei, genne ko matei. Uku yo lak temulung ko dalen luyen cigai. Jano idup ano ko semidep si kemelek kirone nau. Sapei waktaune abis bueak mayang ngen mayang yo ba ngen bebueak beluluk . Ade si ngecep mis.


B.Pembahasan.
Analisis aspek mikrostruktural dari cerita legenda masyarakat Rejang tentang asal-usul pohon enau tersebut diatas dapat dideskripsikan temuan-temuan sebagai berikut : (1) Kohesi kosa kata yang berhubungan antar unsur secara semantis. Seperti teori yang telah dijelaskan pada pendahuluan diatas dalam legenda masyarakat Rejang terdapat keutuhan wacana secara semantis sebagai unsur pembentuknya yaitu :
a. Repetisi (pengulangan)
(1). Sapei waktaune abis bueak mayang ngen mayang yo ba ngen bebueak beluluk.
(2) Ade anok lumang duai basoak. Si alau mai imbo. “Kalew uku matei”, padeakne, “kesoa uku nak di”, nadeakne ngen kakokne. “Lah lajau uku tingga su’ang amen ko matei. Do’o ite duai basoak, ipe lumang ko matei kulo.
(3) Coa uku lak temulung ko”. “Cigay ade dalen luyen igai”, kesoa uku nak di, jano ade tubuh idup, kalew si bebuak manyang awei yo endahne yo bueak ilmaw. Air kemcur manyang kadeaknu yo namo yo ilmawne yo perbuatenne mak bioane.
Repetisi atau pengulangan seperti data (1) diklasifikasikan ke dalam repetisi anafora sedangkan pada data (2) dan (3) dalam kalimat diulang masing-masing hanya dua kali dan pengulangannya ada ditengah-tengah kalimat, maka pengulangan seperti ini diklasifikasikan kedalam jenis repetisi epistrofa.
b.Sinomimi (padanan kata)
(4) Ade anok lumang duai basoak. Si alau mai imbo.
Sinomimi merupakan alat kohesi leksikal dalam wacana yang menggunakan lebih dari satu bentuk bahasa yang secara semantis memiliki kesamaan atau kemiripan semantis. Pada data (4) terdapat kata duai basoak dan si yang memiliki makna semantis yang mirip.
c.Antonimi (lawan kata)
(5) Do’o ite duai basoak, ipe lumang ko matei kulo. Coa uku lak temulung ko”. “Cigay ade dalen luyen igai”, kesoa uku nak di, jano ade tubuh idup, kalew si bebuak manyang awei yo endahne yo bueak ilmaw
Antonimi merupakan kohesi leksikal yang memiliki makna berlawanan atau oposisi, pada data (5) terlihat pada kata matei dan idup termasuk klasifikasi pertentangan mutlak yaitu hidup dan mati memiliki pertentangan makna yang mutlak.
d.Hiponimi (hubungan atas bawah)
(6) Si alau mai imbo. “Kalew uku matei”, padeakne, “kesoa uku nak di”, nadeakne ngen kakokne. “Lah lajau uku tingga su’ang amen ko matei. Do’o ite duai basoak, ipe lumang ko matei kulo. Coa uku lak temulung ko”. “Cigay ade dalen luyen igai”, kesoa uku nak di, jano ade tubuh idup, kalew si bebuak manyang awei yo endahne yo bueak ilmaw. Air kemcur manyang kadeaknu yo namo yo ilmawne yo perbuatenne mak bioane. “Sapei ku kak nio kumu keluwea, kesoa kak nio. Slaweine matei, genne ko matei. Uku yo lak temulung ko dalen luyen cigai. Jano idup ano ko semidep si kemelek kirone nau.
Pada data (6) kata imbo merupakan hipernim dan memiliki hiponim pohon-pohonan salah satunya adalah nau (pohon enau).

(2) Kohesi gramatika
a.Substitusi
            Substitusi merupakan salah satu kohesi gramatika yang berupa penggantian untuk variasi.
(1)    Air kemcur manyang kadeaknu yo namo yo ilmawne yo perbuatenne mak bioane.
(2)    “Cigay ade dalen luyen igai”, kesoa uku nak di, jano ade tubuh idup, kalew si bebuak manyang awei yo endahne yo bueak ilmaw. Air kemcur manyang kadeaknu yo namo yo ilmawne yo perbuatenne mak bioane. “Sapei ku kak nio kumu keluwea, kesoa kak nio. Slaweine matei, genne ko matei. Uku yo lak temulung ko dalen luyen cigai.

Mencermati data-data tersebut pada no (1) unsur lingual ilmawne disubstitusi dengan perbuatenne yang mempunyai arti yang hampir sama. Sedangkan pada data no (2) igai disubstitusi dengan cigai,  memang kata igai yang berarti lagi dan cigai berarti habis akan tetapi pada kalimat pemakaiannya tersebut diatas maksudnya sama yaitu “tidak ada jalan lagi”
b.Elipsis
            Pelesapan merupakan suatu cara menghilangkan beberapa kata, frasa, atau kalimat untuk tujuan kepraktisan dan efektivitas.
(3)“Cigay ade dalen luyen igai”, * kesoa uku nak di, jano ade tubuh idup, kalew si bebuak manyang awei yo endahne yo bueak ilmaw.
Pada data nomor (3) ada frasa yang dilesapkan * yaitu “jawab adiknya tegas”
c.Konjungsi
            Perangkaian merupakan cara menghubungkan unsur yang satu dengan unsur yang lain agar kalimat menjadi padu. Kohesi yang berupa konjungsi pada teks diatas tampak pada data dibawah ini.
(3)    Sapei waktaune abis bueak mayang ngen mayang yo ba ngen bebueak beluluk .

Pada data (3) diatas kata ngen pertama berarati maka yang merangkaikan unsur yang berada disebelah kiri dengan unsur yang sebelah kanan. Sedangkan ngen kedua berarti akan, yang menghubungkan tujuan kalimat sebelah kiri dengan yang sebelah kanan.

(3) Analisis kontek situasi
            Analisis konteks situasi diperlukan untuk mengungkap sesuatu yang berada  dalam wacana yang sedang dianalisis, dalam hal ini legenda pohon enau. Masyarakat Rejang mempunyai mitos bahwa seluruh hewan dan tumbuh-tumbuhan berasal dari manusia (antropos). Hal ini dikemukakan oleh Sarwono dkk (2001:68) “menurut keyakinan masyarakat Rejang, sebagaimana yang dikisahkan dalam mitos kejadiannya burung pungguk terjadi dari seorang anak manusia.” Mitos kejadian pohon enau ini mengandung tiga pelajaran, (1) sikap rela berkorban. Di dalam teks diceritakan bagaimana adik perempuan rela mati asal kakaknya tetap hidup sejahtera dengan mengambil air nira dari pohon enau untuk dijadikan gula aren. (2) masyarakat Rejang mewariskan pengetahuan kepada generasi berikutnya bahwa pohon enau yang banyak tumbuh di wilayah Rejang dapat dimanfaatkan untuk kegiatan ekonomi keluarga, dan (3) pemeliharaan dan pelestarian pohon enau akan terjaga dengan baik mengingat asal usulnya adalah adik perempuan mereka sendiri.
           



Daftar Pustaka
Darma, Yoce Aliah. 2009. Analisis Wacana Kritis. Bandung :Yrama Widya.
Sarwono, dkk. 2001. Kisah Manusia dan Semesta dari Masyarakat Rejang di Propinsi Bengkulu : Analisis Struktur dan Fungsi. Jakarta : Pusat Bahasa Depdikbud.
Wijana dan Muhamad Rohmadi. 2011. Analisis Wacana Pragmatik Kajian Teori dan Analisis. Solo : Yuma Pustaka.

Rabu, 27 Mei 2015

Makalah "Hegemoni Bahasa Indonesia Pengaruhnya Terhadap Nilai Budaya Daerah Rejang"



HEGEMONI BAHASA INDONESIA PENGARUHNYA TERHADAP NILAI BUDAYA DAERAH REJANG

Oleh : YY Ekorusyono
Budayawan


Abstrak

                     Masyarakat Rejang memiliki kekayaan budaya yang sangat beragam  khususnya bahasa ragam adat yang lebih dikenal sebagai serambeak. Serambeak ini mengandung nilai budaya sangat tinggi. Akan tetapi, akhir-akhir ini bahasa ragam adat ini semakin terdesak akibat hegemoni bahasa Indonesia. Akibatnya terjadi “pengeringan” ragam adat ini hampir di seluruh wilayah Rejang, tidak hanya berhenti sampai pada pengeringan ternyata tergeser pula nilai budaya daerah Rejang yang demikian luhur. Makalah ini menunjukkan data-data dan fakta terjadinya pergeseran bahasa ragam adat menyingkirkan pula nilai budaya daerah Rejang dengan menggunakan teori dan kondisi nyata bahasa daerah Rejang sekarang ini. Paparan ini diharapkan dapat merumuskan langkah-langkah yang tepat dalam pemertahanan serambeak yang mengandung nilai budaya luhur suku bangsa Rejang.



A.PENDAHULUAN
            Suku bangsa Rejang memiliki bahasa tersendiri sebagai alat komunikasi diantara mereka. Sesuai dengan nama sukunya, orang orang menyebut bahasa yang dipakai sebagai “Bahasa Rejang” sebagaimana lazimnya nama –nama bahasa di nusantara, bahasa Rejang termasuk rumpun bahasa Austria Sub rumpun Austronesia bagian bahasa-bahasa Nusantara (barat) dengan jumlah penutur 1.000.000 orang lebih yang tersebar di lima kabupaten di Provinsi Bengkulu dan beberapa wilayah di kabupaten Provinsi Sumatera Selatan. Di Provinsi Bengkulu wilayah penuturnya di kabupaten Lebong, Rejang Lebong, Kepahiyang, Bengkulu Utara dan Bengkulu Tengah sementara yang ada di Provinsi Sumatera Selatan di kabupaten Musi Rawas tepatnya di kecamatan Bermani Ulu Rawas dan beberapa marga di kabupaten Lintang Empat Lawang.
Ada beberapa dialek bahasa Rejang yang kita kenal yaitu dialek Jang Lebong,dialek Jang.Kepahiyang dan dialek Jang Pesisia. Tiga dialek ini satu dengan lainnya bisa saling memahami hanya faktor geografis dan kesatuan petulai saja yang berbeda. Dialek Jang Lebong dengan sub dialek jang Musei dan jang Awes meliputi kabupaten Lebong dan Rejang Lebong dan sebagian kabupaten Musi Rawas disatukan secara geografis oleh sungai Ketahun, Musi dan Kelingi dalam kesatuan Jurukalang, Tubei sedangkan dialek Jang Kepahiyang (Kebon Agung) dengan sub dialek Jang Empat Lawang meliputi Kabupaten Kepahiyang dan beberapa marga di kabupaten Empat Lawang dalam kesatuan petulai Bermani dan dialek Jang Pesisia meliputi wilayah kabupaten Bengkulu Utara dan Bengkulu Tengah dalam kesatuan petulai Selupu dan Bermani.
Bahasa Rejang juga mengenal bahasa keadatan yang lebih dikenal sebagai serambeak, bahasa ragam adat ini pada zaman dahulu digunakan sebagai sarana pendidikan sebelum adanya sekolah formal. Serambeak pada zaman keemasannya menjadi bahasa keseharian dalam fungsi dan situasinya. Penutur bahasa Rejang secara aksiomatis bergantian (campur kode) berbicara menggunakan bahasa Rejang biasa dengan serambeak, baik dalam pembicaraan keluarga maupun di masyarakat. Oleh karena itu, serambeak termasuk wahana pendidikan karena memenuhi kriteria seperti yang dikemukakan Sardiman ((1992 : 8) “yang mengatakan bahwa sesuatu itu disebut interaksi edukatif apabila interaksi itu secara sadar mempunyai tujuan untuk mendidik, untuk mengantarkan anak didik ke arah kedewasaannya”.
Serambeak sebagai bahasa keadatan akhir-akhir ini semakin tenggelam akibat hegemoni bahasa indonesia. Pembicaraan dalam keluarga, dikalangan masyarakat tidak lagi terdengar penutur menyelipkan serambeak di dalam pembicaraannya. Serambeak hanya dapat kita dengar  pada peristiwa-peristiwa adat seperti sambutan perkawinan, penobatan raja, kendurai dll. Itupun hanya terbatas pada serambeak yang berkait dengan penghormatan, etika semata, serambeak yang mengandung nilai budaya luhur sudah bukan kering lagi tapi mengalami mati suri.
Gejala pengeringan dan kematian nilai budaya suku bangsa rejang ditinjau dari sudut pandang sosiolinguistik hubungannya dengan etnolingustik. Bahasa dan kebudayaan ibarat dua sisi keping dalam mata uang yang sama. Ada yang memasukkan bahasa dalam salah satu unsur kebudayaan, sebaliknya ada yang memasukkan kebudayaan bagian dari bahasa. Terlepas dari perdebatan itu, semua para ahli bahasa dan antropologi sepakat bahwa budaya suatu bangsa tercermin pada bahasanya, jika bahasanya berubah maka secara otomatis budayanya mengalami perubahan.

Selasa, 26 Mei 2015

Ringkasan buku Mengenal Budaya Enggano

Bagi yang berminat membeli bukunya hubungi :
HP                           : 081278859095
Email                      : yy.ekorusyono@yahoo.com




Judul Buku                        : Mengenal Budaya Enggano
Penulis                              : YY. EKORUSYONO
Cetakan pertama               : 2006
Cetakan kedua                  : 2013
Cetakan ketiga                  : 2015
Halaman                            : x +190 ; 14 x 21 cm
ISBN                                 : 978-602-7636-38-5
Penerbit                            : Buku Litera, Yogyakarta

Ringkasan Buku

1.Pendahuluan
            Enggano adalah sebuah kepulauan terpencil menyimpan keunikan budaya tersendiri dan cenderung tak tersentuh oleh derasnya gelombang budaya globalisasi. Letaknya di samudera Indonesia sebelah barat pulau Sumatera pada 102’05 derajat sampai dengan 102’25 derajat Bujur Timur dan 5’17 derajat sampai dengan 5’31 derajat Lintang Selatan; dengan luas wilayah 680 Km bujur sangkar; panjang 40 km dan lebar 17 km.  Pulau ini dihuni oleh 2406 jiwa dari 619 KK, tingkat kepadatan penduduk 3,81 km/jiwa. Iklim tropis basah, dengan curah hujan rata-rata 3.800mm/per tahun, kelembaban udara 83% sampai 88%.  Keadaan tanahnya subur dan sebagian berbatu karang tidak bergunung, mengalir beberapa sungai besar dan kecil yang airnya bersih. Keadaan alamnya sebagian besar terdiri dari kawasan hutan yang mencapai 33.120 Ha sedangkan tanah yang dihuni dan dimanfaatkan kurang lebih 7.050 Ha.
Pulau Enggano termasuk wilayah pemerintahan Kabupaten Bengkulu Utara Propinsi Bengkulu.  Secara administratif, pulau Enggano merupakan sebuah kecamatan yang terdiri dari enam desa, yaitu desa Kahyapu, Kaana, Malakoni, Apoho, Meok, dan Banjarsari. Tiap-tiap desa dikepalai oleh seorang kepala desa. Berbeda dengan pemerintahan wilayah lainnya di Bengkulu, pemerintahan desa di Enggano tidak mengenal RT dan RW. Semua urusan langsung ditangani kepala desa mengingat penduduknya yang masih sedikit. Seorang kepala desa memerintah sekitar 40 sampai 50 rumah atau KK. Desa yang satu dengan lainnya dipisahkan oleh rimba dan semak belukar. Transportasi dari satu desa ke desa yang lainnya masih didominasi angkutan laut berupa perahu ‘ketek’ dengan muatan 1 ton atau 10 sampai 20 orang. Dalam cuaca bagus perahu ‘ketek’ mampu mengelilingi pulau dalam waktu 12 jam, akan tetapi sekarang dengan adanya pengerasan jalan, tranportasi beralih ke tranportasi darat.
Penduduk Kecamatan Enggano mayoritas penduduk asli dan sebagian kecil pendatang. Penduduk asli ada lima suku yaitu suku Kauno, Kaitora, Kaarubi, Kaharuba dan Kahaoa. Sementara kaum pendatang baik dari suku apapun di luar penduduk asli dimasukkan dalam suku tersendiri yang disebut suku Kamay. Setiap suku dikepalai oleh seorang kepala suku dan dibantu oleh beberapa kepala pintu suku.  Kepala-kepala suku dipimpin oleh seorang pemimpin tertinggi yang disebut Paabuki dengan masa kepemimpinan 6 bulan digilir secara bergantian di antara kepala suku yang ada. Kepala suku masa kepemimpinannya seumur hidup, begitu juga kepala pintu suku (kap kaudar). Bila kepala suku meninggal, ia berhak menunjuk penggantinya atau menyerahkan pemilihannya kepada ‘kepala pintu suku’. Demikian halnya dengan proses pemilihan kepala pintu suku. Tiap-tiap suku berbeda jumlah kepala pintu sukunya, ada yang hanya satu pintu ada yang empat pintu. Suku Kauno ada tiga pintu suku yakni kap kaudar Kapururu, kap kaudar Kaduai, dan kap kaudar Nahyeah Pabuuy.  Sama halnya suku Kaarubi yang juga terdiri dari tiga pintu suku, yaitu kap kaudar Ahipe, kap kaudar Abobo, dan kap kaudar Kaanaine. Suku Katora hanya ada satu pintu yaitu kap kaudar Kaitora, demikian pula suku Kaharuba yang hanya memiliki satu pintu, kap kaudar Kaharuba. Suku Kahaoao ada lima pintu suku, yakni kap kaudar Khadoa, kap kaudar Eyo’oppo, kap kaudar Kakore, kap kaudar Kamanihun, dan kap kaudar Kakionna.  Suku Kamay, sebagai suku pendatang dibagi berdasarkan wilayah yaitu satu kap kaudar wilayah bagian barat dan satu kap kaudar wilayah timur.
Bahasa Enggano adalah satu-satunya alat komunikasi di pulau ini sebelum masuknya pengaruh bahasa Indonesia. Bahasa ini oleh para ahli bahasa digolongkan bahasa akek atau bahasa orang utan karena tidak dikenal. Jumlah pemakai terbesar bahasa Enggano ada di dua desa yaitu Apoho dan Meok. Sedikit di Kaana, Malakoni, dan Banjarsari. Bila ditotal dari seluruh penduduk kurang lebih 60 % yang masih aktif berbahasa Enggano sisanya menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa pergaulan sehari-hari.
Berdasarkan uraian tersebut diatas dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut : “Bagaimanakah kearifan budaya (local genius) masyarakat kepulauan Enggano yang mampu bertahan dari serbuan budaya luar ? “.