Minggu, 07 Juni 2015



Artikel
Pengajaran Sastra Berbasis Otak dan Budaya Lokal

Pengajaran sastra dengan pengguliran kurikulum 2013 bukan semakin eksis justru sebaliknya semakin terpinggirkan. Materi sastra  diajarkan oleh guru cenderung yang kompetensi dasarnya (KD) tercantum dalam silabus. Jika mengacu pada silabus, pengajaran sastra dalam satu semester hanya beberapa kali dipelajari. Kondisi ini tentu bukan yang dimaksud dari ruh  kurikulum baru dalam pembentukan karakter siswa. Ada pemahaman yang perlu diluruskan dalam pembelajaran Bahasa Indonesia. Pendekatan komunikatif dalam pembelajaran sastra pada kurikulum K13 harus dipahami sesuai dengan ruh kurikulum yaitu merujuk pada teks. Artinya, anak belajar sastra di setiap bahasan yang bersifat mengungkapkan gagasan berupa teks yang dihadapi anak sehari-hari yaitu (1) teks berita (melalui koran, televisi, internet dll), (2) teks sastra (rubrik sastra dalam koran/majalah, buku sastra, pentas seni (baca puisi, drama), sinetron dll), dan (3) bahasa sehari-hari (ceramah, pidato, laporan ilmiah, artikel dll).
Setakat itu,  sebagai contoh disini dikemukakan bahasan ekplanasi dengan metode pembelajaran sastra berbasis otak, produk yang dihasilkan harus berbentuk tiga teks yaitu sastra itu sendiri sebagai stresing pelajaran, diikuti bentuk teks berita dan teks eksplanasi sehari-hari. Inovasi yang harus dilakukakan adalah (1) pendekatannya/metodenya, (2) evaluasinya dari bersifat konvergen ke divergen, dan (3) langkah-langkah pembelajarannya. Dalam pembelajaran bahasan eksplanasi pendekatan yang digunakan adalah pembelajaran sastra berbasis otak. Otak manusia agar cerdas dan kreatif perlu rangsangan dan latihan secara terus menerus. Salah satu perangsang kecerdasan otak yang cukup efektif dan sudah terbukti secara ilmiah adalah membaca karya sastra. Membaca karya sastra dapat merangsang empat titik jaringan yang ada di otak kanan maupun kiri, bandingkan dengan menonton film yang diambil dari karya sastra yang sama, hanya merangsang satu titik. Kalau hal ini (membaca karya sastra) terus dibiasakan dan menjadi kebutuhan maka jaringan otak akan membuat sambungan-sambungan satu dengan yang lain semakin banyak dan kuat. Kondisi olah raga otak seperti ini sama dengan kita melatih fisik dengan olah raga tertentu. Otak semakin kuat dan terampil dalam berfikir sama halnya dengan fisik yang terlatih semakin kuat, sehat, dan terampil. Oleh karena itu, setiap anak berkewajiban untuk membaca karya sastra yang akan dibahas secara individual. Selain itu, di akhir pembelajaran selalu diikuti dengan tugas membaca karya sastra baik cerpen, novel dll. sebulan sekali dan hasilnya masuk portofolio anak.
                Terkait dengan masalah evaluasi dalam pembelajaran sastra hendaknya jangan hanya yang bersifat konvergen (pengetahuan dalam teks) akan tetapi harus merangsang kecerdasan otak dan imajinasi yaitu pertanyaan bersifat divergen (diluar teks tapi masih berkait dengan teks).    Sebaiknya siswa diberi pertanyaan mengapa anda memilih tokoh tertentu, apa alasannya? Apakah anda setuju dengan latar cerita, kalau setuju apa alasannya dan kalau tidak buatlah latar yang cocok menurut anda? (pertanyaan divergen). Sedangkan langkah-langkah pembelajarannya, harus mencakup prinsip-prinsip pengajaran sastra berbasis otak dengan obyek/ materi budaya lokal.
                Berkenaan dengan pembelajaran sastra berbasis otak ada beberapa prinsip yang harus ada dalam proses belajar mengajar yaitu :
1.       Mempertajam memori, menurut Madigan (2007:275-276) “bahwa memori-memori dapat disimpan dalam molekul protein”. Maksudnya, pengalaman-pengalaman belajar melalui latihan akan tersimpan dalam otak dan berhasil dikeluarkan dalam tindakan di saat dibutuhkan. Baik itu memori hafalan, memori fotografi, memori umum ketiganya diperoleh melalui pembiasaan/kebiasaan. Sebagai contoh memori hafalan, seseorang ada yang mampu menghafal teks kitab suci tebal-tebal karena membiasakan diri secara disiplin melakukannya dan mampu mengungkapkannya saat diperlukan waktu sembahyang atau kepentingan lain. Dalam pembelajaran sastra, anak harus dibiasakan untuk mengingat memori yang sudah ada pada dirinya sebagai apersepsi (misal tema dongeng) banyak cara untuk mengungkap memori anak sebelum pembelajaran dimulai.
a.       Siapa orang tuanya yang sering mendongeng di rumah?
b.      Dongeng apa yang masih kamu ingat secara utuh?
c.       Siapa yang sudah tahu dongeng berjudul “...” dipersilahkan untuk bercerita di depan?
d.      Dan pertanyaan-pertanyaan yang lain bersifat memancing memori.
2.       Mengembangkan imajinasi, anak dibiasakan berpikir bebas tanpa takut salah. Dalam pembelajaran sastra tidak ada benar salah yang ada logis dan inovatif. Disinilah fungsi pertanyaan-pertanyaan divergen seperti tersebut di atas diperlukan. Kita hanya sebagai fasilitator, mengarahkan anak agar kebebasan itu dibingkai dengan nilai dan norma masyarakat lingkungannya. Pertanyaan-pertanyaan divergen yang berperan mengembangkan imajinasi sebagai berikut :
a.       Siapa tokoh dalam dongeng tersebut yang paling kamu sukai, mengapa demikian?
b.      Selain tokoh, unsur intrinsik/ekstrinsik lainnya bisa dieksplor dengan pertanyaan seperti nomor satu.
c.       Bisakah anda membuat dongeng dengan kreasi-kreasi baru, baik menggunakan gambar, atau alat/alam lingkungan yang ada di sekitarmu!
d.      Dan lain-lain pertanyaan imajinatif.
3.       Diselingi atau divariasi dengan olah raga/musik, Semboyan dalam tubuh yang kuat tumbuh jiwa yang sehat masih sangat relevan dalam pembelajaran berbasis otak. Rileksasi yang paling tepat dalam proses belajar mengajar di setiap 1x45 menit anak-anak berolahraga sejenak berkisar 5 menit untuk menggerakkan seluruh tubuhnya. Eric Jensen (2008:252-253) mengemukakan sebagai berikut :
Bahwa salah satu bentuk olah raga yang paling sederhana, tetapi mungkin paling penting bagi pembelajaran yang optimal adalah sesuatu yang terasa mulai menghilang dari kehidupan anak-anak sekarang ini—permainan dan gerakan yang menstimulasi sistem vestibuler.  Semua bayi, anak-anak dan remaja dapat menerima manfaat dari permainan yang menggerakkan anggota tubuh yang menuntun mereka untuk berputar dan berbalik. Pada kelas yang lebih tinggi, partisipasi dalam olah raga dan mengejar sesuatu yang menuntut tindakan fisik yang energik (misalnya berenang, menyelam, menari, atletik) dapat menunjang pembelajaran.
Tak kalah dengan olah raga, musik juga sangat mendukung rangsangan otak untuk belajar. Eric Jensen lebih lanjut mengatakan (2008:385) “kita mungkin kurang memanfaatkan musik dalam konteks pembelajaran. Kita terlalu mengandalkan suara kita sendiri dalam menyampaikan makna, namun musik adalah pembawa informasi yang sangat baik ke dalam otak”. Dalam prakteknya musik bukan dibunyikan selama pembelajaran atau belajar sambil mendengar musik, tidak, ia digunakan di saat yang diperlukan. Pembelajaran puisi misalnya, lagu-lagu Ebiet G Ade bisa digunakan sebagai wahana pembelajaran yang cukup menarik minat sekaligus mengapresiasi isi syairnya. Anak dibawa dalam suasana menyenangkan, rileks, nyaman, dan tujuan pembelajaran tercapai.
4.       Mencerdaskan emosi, pengajaran sastra hendaknya mendewasakan, menghaluskan budi, menajamkan nurani, peduli pada sesama akan tetapi lebih dari itu kecerdasan emosional (EQ) seperti yang dikatakan Daniel Golemann (dalam Anthony, 2003:37) “bahwa hanya 20% pengaruh IQ (kecerdasan intelektual) pada kesuksesan seseorang, sementara 80% sisanya ditentukan oleh faktor EQ (kecerdasan emosi). Sastra  mengajarkan pada anak untuk (1) obyektif dalam berpikir/berpikir jernih, (2) menjaga kesehatan emosi, dan (3) memilih tindakan yang pantas untuk setiap situasi. Pengalaman-pengalaman yang diperoleh dalam membaca dan mengapresiasi karya sastra arahnya jelas bukan sekedar hiburan tetapi lebih dari itu. Seperti yang didefinisikan Golemann (2003:512) Emotional Intelegence merujuk kepada kemampuan mengenali perasaan kita sendiri dan perasaan orang lain, kemampuan memotivasi diri sendiri, dan kemampuan mengelola emosi dengan baik pada diri sendiri dan dalam hubungan dengan orang lain. Jadi yang dimaksud lebih dari itu dalam pembelajaran sastra tersebut diatas adalah karya sastra yang diajarkan mampu mengolah rasa dalam membentuk kepribadian sukses. Anthony DM (2003 :22) lima besar karakteristik kepribadian (big five personality characteristic) penentu kesuksesan sebagai berikut :

1.       Kemampuan beradaptasi dengan berbagai hirarki sosial (termasuk kesadaran hukum).
2.       Keinginan bekerja sama.
3.       Kapasitas untuk dipercaya dan bertahan pada komitmen.
4.       Kemampuan untuk bertahan menghadapi stres dan berbagai tekanan.
5.       Keterbukaan diri menghadapi masalah dan berpikir inovatif, serta kecerdikan menghadapi masalah.
5.       Kreativitas,  Sudarma (2013:18) “kreativitas adalah suatu proses yang menghasilkan sesuatu yang baru, apakah suatu gagasan atau suatu obyek dalam suatu bentuk atau susunan yang baru”. Pembelajaran sastra juga harus menumbuhkan kecerdasan kreatif, anak diajarkan berani berbuat sesuatu tanpa takut dinilai buruk atau salah. (1) kreativitas atas dasar kombinasi, yaitu anak diajak untuk mengkombinasikan bahan pelajaran yang ada dengan mengubahnya sedikit sesuai kebutuhan dan keinginannya. (2) eksplorasi kemampuan anak, anak diajak untuk menciptakan puisi, cerpen, novel dll. (3) tranformasional, anak diajarkan mengubah gagasan-gagasan dalam karya sastra dalam bentuk tindakan praktis, nyata, tentu yang bersifat positif. Contoh : anak membaca karya sastra “Berkeliling di Bawah Laut” karya Yules Verne, disana ada gagasan memasak makanan-makanan yang hanya ada di bawah laut baik sayur-sayuran dan lauk pauk serta membuat roti dengan bahan dasar dari sumber yang sama. Gagasan nyleneh ini jikalau anak mempraktekannya maka anak tersebut kreatif. Namun demikian perlu ada pancingan dan rangsangan ke arah sana, pembelajaran sastra salah satu wahananya.

Kaitannya dengan budaya lokal maka kurikulum 2013 lebih menekankan pada pendekatan alamiah. Pendekatan alamiah dalam pembelajaran bahasa pada kurikulum K13, memandang bahasa dari sisi teks dan konteks sesuai fakta nyata pemakaian bahasa yang dihadapi anak sehari-hari. Sebagai contoh : menyajikan KD (kompetensi dasar) cerita rakyat/dongeng dengan metode CLIL (content language integrated learning), maka langkah-langkah pembelajarannya adalah materi yang dipelajari dicari dongeng yang ada di dan berkembang di tengah warga sekolah (budaya lokal) dan anak menulis kembali cerita rakyat yang sudah didapat. Ada dua kelebihan langkah pertama ini (1) mempertajam memori, karena anak akan mengingat-ingat kembali dongeng yang pernah mereka dengar atau ketahui dari lingkungannya (2) sesuai konteks (budaya) masyarakat dimana anak tumbuh. Langkah kedua, masuk KI 3 (kompetensi inti pengetahuan) yakni pengetahuan tentang analisis struktural unsur-unsur yang membangun sebuah dongeng (unsur intrinsik seperti tema, amanat, tokoh, latar ) disini guru tidak ceramah, tapi sharing dengan anak dengan teknik probying (memancing dengan pertanyaan-pertanyaan terarah) pertanyaan membimbing siswa untuk menemukan unsur intrinsik yang menjadi tujuan pembelajaran. Langkah ketiga, anak disodori teks dongeng setempat yang lain diluar pengetahuan anak (skemata + 1), anak mulai melakukan langkah-langkah discovery based learning, yaitu menemukan sendiri unsur intrinsik dalam dongeng yang dipelajari. Langkah ketiga, mengekplor imajinasi dan kecerdasan emosi anak dengan pertanyaan-pertanyaan divergen dari unsur intrinsik yang sudah ditemukan anak dalam dongeng sebagai berikut :
a.       Dalam dongeng tersebut mana tokoh yang kamu senangi, mengapa, sebutkan alasannya!
b.      Mengapa kamu memilih rumusan tema dan amanat seperti yang kamu tulis, apa dasar pemikirannya?
c.       Setujukah anda dengan latar cerita, kalau setuju atau tidak, jelaskan alasannya!
Kelebihan langkah ketiga ini (1) pelajaran jadi menyenangkan, (2) mengembangkan imajinasi dan mencerdaskan emosi, anak cerdas emosi ditandai dengan memilih tokoh dengan alasan logis, penalaran ilmiah. Langkah terakhir, pemberian tugas KI 4 (ketrampilan) pemberian tugas terstruktur  dan dimasukkan dalam portofolio siswa.
Pengajaran sastra berbasis budaya lokal memiliki keunggulan sebagai berikut :
1.      Internalisasi nilai budaya lebih mudah karena nilai-nilai yang ada dalam cerita rakyat sesuai dengan alam lingkungan dan alam bawah sadar anak.
2.      Nilai budaya sendiri lebih cocok dibanding dengan budaya luar/asing yang belum tentu lebih baik.
3.      Anak akan merasa bangga dengan khazanah budaya sendiri yang ternyata tidak kalah dibanding budaya asing.
4.      Pelestarian budaya daerah, salah satunya melalui pengajaran formal maupun non formal secara intensif.
Pengajaran berbasis otak dan budaya lokal hendaknya menjadi perhatian serius para guru Bahasa Indonesia dalam rangka menuju Indonesia emas tahun 2045 yang akan datang. Generasi emas yang dicanangkan akan sia-sia apabila setiap komponen tidak turut andil memberi sumbang sihnya. Peran guru bahasa menjadi penting karena dengan pengajaran yang benar dan kreatif akan ikut menyumbang membentuk karakter anak di kemudian hari yaitu karakter yang selaras dengan budaya kita sendiri. Ingat hasil penelitian Munandar  (2002:155) ia mengatakan “guru mempunyai dampak yang besar tidak hanya pada prestasi pendidikan anak tetapi juga sikap anak terhadap sekolah dan terhadap belajar pada umumnya. Guru dapat melumpuhkan kemelitan (rasa ingin tahu) alamiah, merusak motivasi, harga diri dan kreativitas anak”. Sebaliknya guru dapat menggali rasa ingin tahu anak, menumbuhkan motivasi, harga diri dan kreativitas.






Daftar Pustaka
Goleman Daniel. 2003. Kecerdasan Emosi untuk Mencapai Puncak Prestasi. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama.
Jensen, Eric.2008. Brain-Based Learning. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Martin, Anthony Dio. 2003. Emotional Qualitify Management, Refleksi, Revisi dan revitalisasi hidup Melalui Kekuatan Emosi. Jakarta : Penerbit Arga.
Madigan, Sthepen A. 2007. Memory The key to Consciousness, Mengungkap Rahasia Otak dalam Menerima dan Menyimpan Memori. Jakarta : Trans Media.
Munandar, SC Utami.2002. Kreativitas dan Keberbakatan Strategi Mewujudkan Potensi Kreatif dan Bakat. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama.

Rabu, 03 Juni 2015



Apresiasi SastraTeks Lagu Daerah
                        Rejang Lebong       

          Nasib                      Nasib
Uku alew mai sadei Perbo                  saya pergi ke dusun perbo                  
temau punguk nak pengei dalen         ketemu burung pungguk di pinggir jalan
Lang ke malang nasib ku iyo              sungguh malang nasibku ini
awei punguk indeu ngen bulen           bagaikan pungguk merindukan bulan.

Uku teus mai sadei saweak                 saya terus ke dusun sawah
 temau saweak nak bioa musei            ketemu sawah di tepi sungai Musi
Men ku namen tun temegea                jika kutahu orang melarang
 nemak ku anduk gen mlap bioa matei            kuambil handuk untuk menghapus air mata

Uku teus mai tabarena’                       Saya terus menuju ke Tabarenah
singga’ uku nak sipang epat                singgah aku di simpang empat,
Men ku namen eko lak nikea’             jika kutahu engkau akan menikah
 kunyeu ba uku idup melarat               biarlah aku hidup menderita.

Uku belek mai bioa ambei                   Saya pulang ke Air Rambai
 mitas uku kak sadei cu’up                  melintas saya di dusun Curup
Men ku namen ko bi jijei                     jika kutahu engkau sudah jadi
 baik ba uku dawi ba idup                   lebih baik aku tak usah hidup

(Dikutip dari lagunya Romlah dan Ridwan CH Rejang Lebong).


Judul lagu “Nasib” yang dinyanyikan oleh penyanyi Ridwan CH dan Romlah tersebut di atas dapat diartikan suatu ketentuan yang harus diterima oleh seseorang baik atau pun  buruk. Nasib juga dapat dipahami sebagai suratan tangan yang harus dijalani, kalau tercatat akan selamat walau seribu orang bersekongkol mau mencelakakan, ia tetap akan selamat tidak kurang suatu apa sebaliknya kalau tercatat akan celaka walau seribu orang bersama-sama ingin menyelamatkannya maka ia akan tetap celaka. Dalam perspektif agama Islam nasib itu sama dengan takdir, yaitu ada (1) takdir musayyar sesuatu yang telah ditentukan dan dibentuk oleh Maha Pencipta. Misalnya, manusia tidak tahu bagaimana alat pencernaannya bekerja, pernapasannya berfungsi, dapat merasakan semua itu tanpa ikhtiar juga kehadirannya di dunia ini atau kematiannya. Semua sifat manusia yang sama dengan sifat benda, tanam-tanaman dan hewan adalah musayyar. (2) takdir mukhayyar yaitu takdir yang manusia diberi kebebasan memilih/menentukan, menerima atau menolaknya, seperti mau sholat atau tidak, mau bekerja atau jadi pengangguran, termasuk jodoh.
Sekarang mari kita pahami nasib yang dimaksud dari judul lagu di atas, pada bait pertama nasib si fulan dijelaskan bahwa nasibnya malang. Kemalangan si fulan digambarkan seperti burung pungguk merindukan bulan, artinya malang dalam bercinta yaitu mengharapkan sesuatu yang tak mungkin didapatkannya atau bisa juga cinta bertepuk sebelah tangan. Mana yang lebih tepat, cinta ditolak atau bertepuk sebelah tangan ? jawabannya terdapat pada bait kedua, disana disebutkan “men kunamen tun temegea” (kalau kutahu orang mencegah/melarang) jelas maksudnya cinta ditolak bukan karena cinta bertepuk sebelah tangan. Cintanya ditolak karena ada orang melarang/mencegah bukan karena penolakan dari gadis idamannya. Siapa yang melarang ? bisa orang tua laki-laki atau perempuan, bisa keluarga adik beradik, bisa juga keluarga dekat seperti pak de/bude, paman/bibi, kakek/nenek dst. Orang mencegah/melarang bisa ada beberapa faktor umum keseharian yang terjadi di masyarakat, yaitu :
1.      Pihak laki-laki orang tidak mampu sementara pihak perempuan keluarga berada.
2.      Pihak laki-laki rakyat biasa (petani) sedang pihak perempuan keturunan bangsawan (pejabat).
3.      Pihak laki-laki wajahnya tidak tampan sedang perempuannya cantik.
4.      Atau ada faktor perselisihan yang belum selesai antara kedua orang tua dsb.
Dalam konteks lebih luas “tun temegea” bisa berarti keduluan orang lain, ditunggu-tunggu tidak segera melamar maka begitu ada yang melamar segera diterima. Artinya gadis idaman dilamar orang lain, dan gadis idaman sudah menjadi gadis “bertanda”. Gadis bertanda dalam kebudayaan Rejang tidak boleh diganggu siapapun, kalau ada yang coba-coba maka nyawa taruhannya. Contoh kasus yang dapat dijadikan pelajaran yaitu dongeng “Sinatung Natak”, ia dibunuh karena mengganggu gadis bertanda. Dalam perpektif Islam memang pantang menawar barang yang sedang ditawar orang lain, begitu juga dilarang melamar wanita yang sudah dilamar orang lain, apalagi sampai membawanya lari.
Nasib malang semakin dirasakan sangat malang tatkala mendengar gadis pujaannya mau menikah. Baru tahap lamaran saja, mendengarnya sudah menyesakkan dada apalagi sebentar lagi mau melaksanakan “bimbang kejai” maka si fulan mengungkapkan persaannya pada bait ketiga sebagai berikut : “men kunamen ko lak nikea’, kunyau ba uku idup melarat” kalau kutahu engkau segera menikah maka biarlah aku hidup sengsara, dalam konteks keseharian orang Rejang “hidup sengsara” maksudnya seperti pepatah bagai kerakap hidup di batu hidup segan mati tak mau. Antara hidup dan mati, bekerja malas, makan minum apalagi semua terasa hambar, dunia serasa gelap gulita, mata enggan terpejam hanya angan-angan mengukir wajahmu dalam batok kepala, itu yang membawanya menginjak daratan. Puisi berikut ini menggambarkan kondisi si fulan yang sedang gundah gulana.
Rindu
Kala malam pekat menyelimuti rasa
Hening, kabut menutup semua pintu
Angin menggigil membawa wajahmu pergi
Kudatangkan gambarmu seutuhnya, tapi tak bisa
Waktu tlah merebut kita
Disini kusenandungkan rindu
Menjemput bayang-bayangmu di langit kamar
Oh..rindu.......................................................................!!!
Rinduku menggambar senyum manismu  semakin nyata
Memeluk tidur malamku semakin panjang
 Mata enggan terpejam
Kubuka pintu, tak ada kamu
Air mata menetes .....setetes rindu.

            Kemalangan si fulan ditegaskan pada bait terakhir yang mengatakan, “men kunamen ko bi jijei” (kalau kutahu kau sudah jadi) maksudnya pernikahan betul-betul sudah terlaksana, sehingga tak ada harapan lagi. Gadis pujaan sekarang sudah sah menjadi milik orang lain tak bisa diganggu gugat lagi kecuali nasib buruk menimpa seperti bercerai, meninggal sehingga ia masih punya kesempatan menikahi gadis pujaannya walau statusnya janda. Kutunggu jandamu hanya itu harapan kecilnya.
 Jadi nasib malang memang sudah menjadi bagianku (si fulan), takdir sudah menentukan bahwa  saling cinta belum tentu menuju jenjang pernikahan. Cinta boleh dipunyai oleh si fulan tapi raga gadis pujaan sekarang sah milik orang lain. Ibarat pepatah penghibur hati “cinta tidak harus memiliki”, akan tetapi hati si fulan tidak bisa menerima kenyataan pahit ini. Hal ini terlihat pada kalimat terakhir sebagai berikut : “baik ba uku dawi ba idup” (lebih baik aku tidak usah hidup), maksudnya jelas daripada hidup makan hati berulam jantung lebih baik mati berputih tulang atau dalam bahasa tragisnya “bunuh diri”. Mengapa si fulan merintih sampai mau bunuh diri segala, ini disebabkan nasib bagiannya yang sudah jatuh ditimpa tangga pula.
 Kesimpulan dari kisah si fulan, nasib yang dimaksud adalah takdir buruk karena Tuhan menentukan lain dari yang diharapkannya. Padahal kalau dikaji apa yang kita inginkan belum tentu itu yang diberi oleh Tuhan pada kita. Bisa jadi apa yang diberi itu ternyata itu yang terbaik buat diri kita, kita mencintai si A tapi ternyata si A mencintai si B, si B mencintai kita tapi kita tidak, seperti lingkaran yang tak ada habisnya. Oleh karena itu, kita harus bisa menerima apa yang diberikan oleh Tuhan apa adanya (optimisme) sebaliknya kalau kita mengeluh dan menyalahkan nasib sebagai biang keladinya maka sifat pesimisme ini harus dihindari. Sikap pesimis akan membelenggu langkah panjang kita menuju harapan di masa datang. Dunia tak selebar daun kelor, masih banyak gadis-gadis terbaik yang disiapkan Tuhan menunggu di ujung waktu. Jangan kita habiskan waktu dengan hal-hal yang tak berguna, hanya karena seorang wanita.Wanita yang dijodohkan oleh Tuhan untuk kita seburuk apa pun itu yang terbaik buat hidup kita. Sebaliknya secantik bidadari gadis yang meluluhkan hati kita, kalau bukan jodoh, itu lebih baik buat kita.
Lagu di atas mengajarkan pada kita jangan seperti si fulan yang tidak bisa menerima takdir ketentuan dari Tuhan lalu jatuh pada menganiaya diri sendiri. Merintih, menyayat hati boleh-boleh dan sah-sah saja karena sakitnya tu disini akan tetapi jangan lama-lama berkubang disana. Segera bangkit dan berjalanlah seperti biasa saat anda merasakan betapa bahagianya hidup didunia penuh lika-liku ini. Liku-liku laki-laki selalu berkelit berkelindan dengan perempuan kecuali abnormal.

Selasa, 02 Juni 2015



 Analisis wacana
Teks sastra lisan Rejang
“Terjadinya Pohon Enau”

A.Pendahuluan.
Analisis Wacana menurut Stubbs (dalam Darma, 2009:15) mengatakan bahwa analisis wacana merupakan suatu kajian yang meneliti dan menganalisis bahasa yang digunakan secara alamiah, baik lisan maupun tulis, misalnya pemaknaan bahasa dalam komunikasi sehari-hari. Sementara itu, Darma (2009:47) dalam wacana perlu diperhatikan tiga hal, yaitu (1) tahapan struktur bahasa yang menghubungkannya dengan partisipan dalam komunikasi, (2) tindakan yang dimunculkan melalui teks yang dihasilkannya, (3) konteks dalam wacana yang dibangun. Sedangkan Wijana dan Muhammad Rohmadi (2011:13) mendefinisikan analisis wacana adalah  analisis kebahasaan yang terikat dengan konteks. Dari pendapat para ahli bahasa tersebut diatas dapat dikatakan bahwa analisis wacana adalah usaha menelaah, meneliti, mengkaji, mendepkripsikan produk bahasa yang berguna sesuai konteks baik lisan maupun tulisan.
Ada dua aspek dalam analisis wacana, Darma (2009:73-79) yaitu, (1) aspek mikrostruktural, wacana dikaji dari sisi linguis seperti jenis, struktur dan hubungan bagian-bagiannya. Kajiannya meliputi yaitu, (a) kosa kata (kohesi leksikal) seperti repetisi, sinomimi, antonimi, hiponimi, kolokasi, (b) gramatika seperti referensi, substitusi, elipsis, konjungsi. dan (c) struktur teks yaitu elemen-elemen secara berurutan yang membangun teks. (2) aspek makrostruktural, analisis wacana yang menginterpretasi teks dengan memperhatikan konteks situasional (budaya) dan konteks antar tekstual (prinsip analogi, background dll).
Berikut ini legenda terciptanya pohon enau, kutipan lisan.(Sarwono, 2001). Teks lisan ini akan dianalisis sesuai teori analisis wacana seperti yang telah dikemukakan di atas.




Ade anok lumang duai basoak. Si alau mai imbo. “Kalew uku matei”, padeakne, “kesoa uku nak di”, nadeakne ngen kakokne. “Lah lajau uku tingga su’ang amen ko matei. Do’o ite duai basoak, ipe lumang ko matei kulo. Coa uku lak temulung ko”. “Cigay ade dalen luyen igai”, kesoa uku nak di, jano ade tubuh idup, kalew si bebuak manyang awei yo endahne yo bueak ilmaw. Air kemcur manyang kadeaknu yo namo yo ilmawne yo perbuatenne mak bioane. “Sapei ku kak nio kumu keluwea, kesoa kak nio. Slaweine matei, genne ko matei. Uku yo lak temulung ko dalen luyen cigai. Jano idup ano ko semidep si kemelek kirone nau. Sapei waktaune abis bueak mayang ngen mayang yo ba ngen bebueak beluluk . Ade si ngecep mis.


B.Pembahasan.
Analisis aspek mikrostruktural dari cerita legenda masyarakat Rejang tentang asal-usul pohon enau tersebut diatas dapat dideskripsikan temuan-temuan sebagai berikut : (1) Kohesi kosa kata yang berhubungan antar unsur secara semantis. Seperti teori yang telah dijelaskan pada pendahuluan diatas dalam legenda masyarakat Rejang terdapat keutuhan wacana secara semantis sebagai unsur pembentuknya yaitu :
a. Repetisi (pengulangan)
(1). Sapei waktaune abis bueak mayang ngen mayang yo ba ngen bebueak beluluk.
(2) Ade anok lumang duai basoak. Si alau mai imbo. “Kalew uku matei”, padeakne, “kesoa uku nak di”, nadeakne ngen kakokne. “Lah lajau uku tingga su’ang amen ko matei. Do’o ite duai basoak, ipe lumang ko matei kulo.
(3) Coa uku lak temulung ko”. “Cigay ade dalen luyen igai”, kesoa uku nak di, jano ade tubuh idup, kalew si bebuak manyang awei yo endahne yo bueak ilmaw. Air kemcur manyang kadeaknu yo namo yo ilmawne yo perbuatenne mak bioane.
Repetisi atau pengulangan seperti data (1) diklasifikasikan ke dalam repetisi anafora sedangkan pada data (2) dan (3) dalam kalimat diulang masing-masing hanya dua kali dan pengulangannya ada ditengah-tengah kalimat, maka pengulangan seperti ini diklasifikasikan kedalam jenis repetisi epistrofa.
b.Sinomimi (padanan kata)
(4) Ade anok lumang duai basoak. Si alau mai imbo.
Sinomimi merupakan alat kohesi leksikal dalam wacana yang menggunakan lebih dari satu bentuk bahasa yang secara semantis memiliki kesamaan atau kemiripan semantis. Pada data (4) terdapat kata duai basoak dan si yang memiliki makna semantis yang mirip.
c.Antonimi (lawan kata)
(5) Do’o ite duai basoak, ipe lumang ko matei kulo. Coa uku lak temulung ko”. “Cigay ade dalen luyen igai”, kesoa uku nak di, jano ade tubuh idup, kalew si bebuak manyang awei yo endahne yo bueak ilmaw
Antonimi merupakan kohesi leksikal yang memiliki makna berlawanan atau oposisi, pada data (5) terlihat pada kata matei dan idup termasuk klasifikasi pertentangan mutlak yaitu hidup dan mati memiliki pertentangan makna yang mutlak.
d.Hiponimi (hubungan atas bawah)
(6) Si alau mai imbo. “Kalew uku matei”, padeakne, “kesoa uku nak di”, nadeakne ngen kakokne. “Lah lajau uku tingga su’ang amen ko matei. Do’o ite duai basoak, ipe lumang ko matei kulo. Coa uku lak temulung ko”. “Cigay ade dalen luyen igai”, kesoa uku nak di, jano ade tubuh idup, kalew si bebuak manyang awei yo endahne yo bueak ilmaw. Air kemcur manyang kadeaknu yo namo yo ilmawne yo perbuatenne mak bioane. “Sapei ku kak nio kumu keluwea, kesoa kak nio. Slaweine matei, genne ko matei. Uku yo lak temulung ko dalen luyen cigai. Jano idup ano ko semidep si kemelek kirone nau.
Pada data (6) kata imbo merupakan hipernim dan memiliki hiponim pohon-pohonan salah satunya adalah nau (pohon enau).

(2) Kohesi gramatika
a.Substitusi
            Substitusi merupakan salah satu kohesi gramatika yang berupa penggantian untuk variasi.
(1)    Air kemcur manyang kadeaknu yo namo yo ilmawne yo perbuatenne mak bioane.
(2)    “Cigay ade dalen luyen igai”, kesoa uku nak di, jano ade tubuh idup, kalew si bebuak manyang awei yo endahne yo bueak ilmaw. Air kemcur manyang kadeaknu yo namo yo ilmawne yo perbuatenne mak bioane. “Sapei ku kak nio kumu keluwea, kesoa kak nio. Slaweine matei, genne ko matei. Uku yo lak temulung ko dalen luyen cigai.

Mencermati data-data tersebut pada no (1) unsur lingual ilmawne disubstitusi dengan perbuatenne yang mempunyai arti yang hampir sama. Sedangkan pada data no (2) igai disubstitusi dengan cigai,  memang kata igai yang berarti lagi dan cigai berarti habis akan tetapi pada kalimat pemakaiannya tersebut diatas maksudnya sama yaitu “tidak ada jalan lagi”
b.Elipsis
            Pelesapan merupakan suatu cara menghilangkan beberapa kata, frasa, atau kalimat untuk tujuan kepraktisan dan efektivitas.
(3)“Cigay ade dalen luyen igai”, * kesoa uku nak di, jano ade tubuh idup, kalew si bebuak manyang awei yo endahne yo bueak ilmaw.
Pada data nomor (3) ada frasa yang dilesapkan * yaitu “jawab adiknya tegas”
c.Konjungsi
            Perangkaian merupakan cara menghubungkan unsur yang satu dengan unsur yang lain agar kalimat menjadi padu. Kohesi yang berupa konjungsi pada teks diatas tampak pada data dibawah ini.
(3)    Sapei waktaune abis bueak mayang ngen mayang yo ba ngen bebueak beluluk .

Pada data (3) diatas kata ngen pertama berarati maka yang merangkaikan unsur yang berada disebelah kiri dengan unsur yang sebelah kanan. Sedangkan ngen kedua berarti akan, yang menghubungkan tujuan kalimat sebelah kiri dengan yang sebelah kanan.

(3) Analisis kontek situasi
            Analisis konteks situasi diperlukan untuk mengungkap sesuatu yang berada  dalam wacana yang sedang dianalisis, dalam hal ini legenda pohon enau. Masyarakat Rejang mempunyai mitos bahwa seluruh hewan dan tumbuh-tumbuhan berasal dari manusia (antropos). Hal ini dikemukakan oleh Sarwono dkk (2001:68) “menurut keyakinan masyarakat Rejang, sebagaimana yang dikisahkan dalam mitos kejadiannya burung pungguk terjadi dari seorang anak manusia.” Mitos kejadian pohon enau ini mengandung tiga pelajaran, (1) sikap rela berkorban. Di dalam teks diceritakan bagaimana adik perempuan rela mati asal kakaknya tetap hidup sejahtera dengan mengambil air nira dari pohon enau untuk dijadikan gula aren. (2) masyarakat Rejang mewariskan pengetahuan kepada generasi berikutnya bahwa pohon enau yang banyak tumbuh di wilayah Rejang dapat dimanfaatkan untuk kegiatan ekonomi keluarga, dan (3) pemeliharaan dan pelestarian pohon enau akan terjaga dengan baik mengingat asal usulnya adalah adik perempuan mereka sendiri.
           



Daftar Pustaka
Darma, Yoce Aliah. 2009. Analisis Wacana Kritis. Bandung :Yrama Widya.
Sarwono, dkk. 2001. Kisah Manusia dan Semesta dari Masyarakat Rejang di Propinsi Bengkulu : Analisis Struktur dan Fungsi. Jakarta : Pusat Bahasa Depdikbud.
Wijana dan Muhamad Rohmadi. 2011. Analisis Wacana Pragmatik Kajian Teori dan Analisis. Solo : Yuma Pustaka.